NTTBersuara.id,MAUMERE,–Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan perlunya perubahan arah pendidikan agar lebih terhubung dengan potensi daerah dan kebutuhan nyata dunia kerja. Hal itu disampaikan saat pra-launching program One School, One Product (OSOP) di SMK Negeri 1 Maumere, Kabupaten Sikka, Jumat 17 April 2026.
Dalam arahannya, Gubernur Melki menilai pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada akademik dan karakter, tetapi harus berjalan seimbang dengan penguatan kewirausahaan agar siswa memiliki arah yang jelas setelah lulus.
“Pendidikan kita arahkan untuk urusan akademik, karakter, dan kewirausahaan. Ketiganya harus jalan bersama. Kewirausahaan harus diperkenalkan supaya anak-anak tidak kehilangan konteks kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menyoroti masih banyak lulusan yang tidak memiliki keterkaitan antara ilmu yang dipelajari dengan potensi daerahnya. Akibatnya, lulusan sering kebingungan menentukan pekerjaan ketika kembali ke daerah.
“Kalau anak-anak tidak tahu potensi daerahnya, nanti pulang dia bingung mau kerja apa. Ini harus selesai di SMA, SMK, bahkan SLB, supaya mereka sudah tahu mau ke mana,” tegasnya.
Melki bahkan mengungkapkan fenomena lulusan perguruan tinggi, termasuk dari luar negeri, yang belum terserap dunia kerja karena tidak relevan dengan kebutuhan daerah.
“Sekarang tidak ada jaminan lulusan kampus terbaik langsung dapat kerja. Banyak yang pulang 5 sampai 10 tahun masih kosong karena tidak nyambung dengan potensi daerahnya,” katanya.
Karena itu, ia meminta penguatan muatan lokal berbasis potensi daerah menjadi perhatian serius di sekolah. Menurutnya, siswa harus dikenalkan sejak dini pada kekayaan daerahnya, agar dapat menentukan pilihan pendidikan dan karier secara lebih terarah.
“Yang penting sekarang bukan sekolah di mana, tapi belajar bidang apa untuk tujuan apa. Kalau tidak nyambung dengan tempat dia mau kerja, percuma,” ujarnya.
Selain itu, Gubernur juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung eksplorasi potensi siswa, termasuk melalui pola pembelajaran yang adaptif, baik secara fisik maupun virtual.
“Kita tidak harus selalu fisik. Kalau bisa virtual dan efisien, itu juga bisa melahirkan anak-anak hebat dari Sikka,” katanya.
Di sisi lain, penguatan karakter tetap menjadi perhatian. Melki meminta seluruh sekolah kembali mengaktifkan kegiatan kepramukaan sebagai sarana pembentukan disiplin, kepemimpinan, dan nilai kebersamaan.
“Pramuka adalah salah satu media terbaik untuk menjaga karakter anak. Harus aktif di semua jenjang pendidikan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun ruang dialog terbuka di lingkungan sekolah agar persoalan dapat diselesaikan secara internal dan tidak meluas ke ruang publik tanpa kontrol.
“Kalau tidak ada ruang dialog, masalah bisa keluar ke media sosial. Ini yang harus kita cegah dengan komunikasi terbuka antara guru, siswa, dan orang tua,” katanya.
Sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter dan peran keluarga, Pemprov NTT tengah menyiapkan kebijakan jam belajar masyarakat. Kebijakan ini diharapkan menciptakan waktu khusus bagi anak untuk belajar dan membangun interaksi dalam keluarga.
“Kita ingin ada waktu hening untuk belajar dan kebersamaan. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah,” tegasnya.
Dalam konteks ekonomi, Gubernur Melki mengaitkan program OSOP dengan upaya mengurangi defisit perdagangan NTT yang masih tinggi, mencapai sekitar Rp51 triliun pada tahun sebelumnya.
Ia menyebut OSOP sebagai bagian dari tiga pilar utama penyokong NTT Mart, bersama desa dan komunitas, untuk memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis produksi lokal.
“Kita harus produksi sendiri. Kalau tidak, uang kita terus keluar. Sekolah punya peran melatih anak menghasilkan produk dan uang,” ujarnya.
Melki juga mencontohkan potensi ekonomi lokal yang bisa dikembangkan, mulai dari pertanian, peternakan, hingga produk sederhana seperti air minum lokal.
Ia bahkan mendorong pemerintah daerah membuat regulasi agar penggunaan produk lokal diprioritaskan dalam kegiatan pemerintahan, hotel, hingga usaha kecil.
“Kalau uang yang keluar bisa kita tahan, itu akan berputar di masyarakat dan memperkuat ekonomi daerah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menyampaikan bahwa program NTT Mart berbasis OSOP telah mulai diterapkan di beberapa daerah, yakni Kabupaten Belu, TTU, TTS, dan Kota Kupang.
Menurutnya, pendekatan ini dirancang untuk membangun kreativitas, inovasi, dan keterampilan kewirausahaan peserta didik.
“Peserta didik tidak hanya akademik, tetapi harus punya pengalaman dan skill. OSOP ini jadi ruang belajar nyata,” ujarnya.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menilai program tersebut menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerahnya.
“Pendidikan adalah kunci keluar dari berbagai persoalan sosial. Kami juga siapkan penguatan kapasitas guru, termasuk literasi dan numerasi agar lebih relevan dengan kondisi saat ini,” katanya.
Ia juga menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap implementasi NTT Mart dan OSOP melalui koordinasi dengan sekolah.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Melki meninjau langsung produk hasil karya siswa, berdialog, serta mencoba sejumlah produk yang ditampilkan. Interaksi itu memperlihatkan upaya konkret mendorong sekolah menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga produktif dan relevan dengan kebutuhan ekonomi daerah.
Turut mendampingi Gubernur dalam kunjungan tersebut antara lain Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT Benyamin Nahak, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Prisila Q. Parera, Kepala Biro Umum Setda NTT Agustinus Sigasare, serta Kepala Bidang Pengembangan Pegawai BKD NTT Guido Laga Uran. (lya)











Komentar