NTTBersuara.id,KUPANG,-Yayasan Ume Daya Nusantara (UDN) mendorong penguatan kolaborasi dengan insan pers untuk memastikan isu Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) serta perubahan iklim dapat disampaikan kepada publik secara tepat dan mampu memberikan perlindungan bagi kelompok rentan.
Direktur Yayasan Ume Daya Nusantara, Simon Sadi Open,mengatakan media merupakan mitra strategis UDN dalam menyuarakan berbagai persoalan sosial, khususnya yang berkaitan dengan GEDSI dan dampak perubahan iklim di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.
“Kami membangun kolaborasi antara wartawan dengan UDN sebagai organisasi masyarakat sipil yang konsisten mengusung isu GEDSI dan perubahan iklim di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang. Wartawan adalah mitra strategis yang menyampaikan isu-isu ini ke masyarakat luas,” ujar Simon dalam diskusi strategis bersama insan pers di Kantor Yayasan UDN, Kamis 13 Agustus 2026.
Menurut Simon, penguatan kapasitas jurnalis menjadi bagian penting dari kolaborasi tersebut. Forum diskusi dan penyegaran keterampilan jurnalistik itu diselenggarakan berdasarkan kebutuhan insan pers untuk memperoleh pengayaan wawasan secara berkala.
Ia berharap kerja sama antara organisasi masyarakat sipil dan media dapat menghasilkan pemberitaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu mendorong perhatian publik terhadap persoalan yang dihadapi kelompok rentan.
“Melalui kolaborasi ini, diharapkan informasi yang sampai ke publik dapat memberikan perlindungan dan keberpihakan yang tepat bagi kelompok rentan dari dampak perubahan iklim maupun persoalan sosial lainnya,” katanya.
Diskusi tersebut menghadirkan wartawan senior Matheos Victor Messakh sebagai narasumber utama. Ia menekankan pentingnya pemahaman isu yang mendalam bagi jurnalis agar pemberitaan yang dihasilkan tetap berimbang dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi kelompok rentan.
Matheos mengatakan jurnalis memang dituntut menguasai berbagai isu karena bekerja sebagai generalis. Namun, hal itu harus diimbangi dengan kemauan untuk memperdalam isu-isu spesifik.
“Jurnalis itu biasanya generalis, menguasai semua isu karena meliput berbagai hal. Justru karena itu, jurnalis harus terus meningkatkan kapasitas dirinya agar memahami isu yang spesifik,” ujar Matheos.
Ia mengingatkan, keterbatasan pemahaman terhadap isu GEDSI dapat membuat pemberitaan berisiko memperlemah posisi kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, dan kelompok disabilitas.
Selain itu, pemahaman yang tidak memadai juga berpotensi menyebabkan misleading atau penyesatan informasi kepada publik, baik disengaja maupun tidak disengaja.
Karena itu, menurut Matheos, penguatan perspektif dan kapasitas jurnalis merupakan hal mendasar untuk memastikan pemberitaan mengenai GEDSI dan perubahan iklim dapat disajikan secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
(lya)














Komentar