NTTBersuara.id,KUPANG,–SMP Negeri 7 Kolhua, Kota Kupang, terus melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memperkuat budaya literasi dan pembentukan karakter peserta didik. Salah satu program unggulan yang segera diterapkan adalah Time Silent atau waktu hening membaca yang menjadi bagian dari penguatan program sekolah lima hari.
Kepala SMP Negeri 7 Kolhua, Yani A. Boymau, di ruang kerjanya, Kamis 18 Juni 2026, mengatakan sekolah saat ini tidak hanya berfokus pada kegiatan pembelajaran intrakurikuler, tetapi juga mengembangkan sedikitnya tujuh program pengembangan diri yang dilaksanakan setiap pekan guna mendukung prestasi akademik dan nonakademik siswa.
Menurut Boymau, program tersebut mencakup English Club, pembinaan Olimpiade Sains, penajaman materi untuk 10 mata pelajaran prioritas, serta penguatan literasi dan numerasi sebagai bagian dari persiapan siswa menghadapi Tes Potensi Akademik (TPA).
“Kami ingin memastikan siswa memperoleh ruang yang cukup untuk mengembangkan kemampuan akademik maupun keterampilan lainnya. Karena itu, sebagian besar kegiatan pengembangan diri dan ekstrakurikuler akan dipusatkan pada hari Sabtu sehingga siswa dapat lebih fokus mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka,” katanya.
Ia menjelaskan, sekolah juga tengah mempersiapkan penerapan sistem lima hari sekolah yang didukung sejumlah program inovatif, antara lain penguatan perwalian, pembelajaran berbasis proyek (project based learning), serta program Time Silent sebagai upaya membangun budaya baca di lingkungan sekolah.
Dalam program tersebut, selama satu jam pelajaran seluruh warga sekolah akan berada dalam suasana tenang untuk membaca. Tidak ada aktivitas lain selain membaca buku atau bahan bacaan yang telah disiapkan.
“Program Time Silent akan saya pimpin langsung pada tahap awal bersama tim kurikulum. Kami ingin memastikan budaya membaca benar-benar tumbuh dan menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan belajar siswa,” ujarnya.
Menurut Boymau, kebiasaan membaca yang dilakukan secara rutin diyakini dapat meningkatkan kemampuan literasi, memperluas wawasan, sekaligus membentuk karakter siswa yang lebih disiplin dan reflektif. Setelah berjalan secara optimal, pelaksanaan program akan dipantau secara berkala oleh tim kurikulum dan pimpinan sekolah.
Terkait penggunaan telepon genggam (HP) di kalangan siswa, Boymau menegaskan bahwa perkembangan teknologi merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Karena itu, sekolah memilih pendekatan edukatif dengan mengarahkan siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.
“HP bisa menjadi sarana belajar yang sangat baik, tetapi juga dapat menjadi tantangan jika tidak digunakan secara tepat. Karena itu, sekolah dan orang tua harus bersama-sama memberikan pendampingan dan pengawasan kepada siswa,” katanya.
Ia menambahkan, sekolah akan menerapkan aturan dan pengawasan yang jelas terkait penggunaan perangkat digital sehingga teknologi dapat mendukung proses pembelajaran tanpa mengganggu konsentrasi belajar maupun pembentukan karakter peserta didik.
Senada dengan itu, salah seorang guru SMPN 7 Kolhua, Konstan Sandi, menilai program Time Silent merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan budaya literasi di tengah derasnya arus informasi digital.
“Anak-anak saat ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, sekolah perlu menghadirkan ruang khusus yang mendorong mereka kembali akrab dengan buku. Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga melatih konsentrasi, kedisiplinan, dan karakter siswa,” ujarnya.
Menurut Sandi, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada komitmen seluruh warga sekolah, termasuk guru yang harus menjadi teladan dalam membangun budaya membaca.
Dengan berbagai inovasi yang terus dikembangkan, SMPN 7 Kolhua berharap mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, budaya literasi yang baik, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
(goe)














Komentar