NTTBersuara.id, ENDE, Dengan target penyelesaian pada 16 November 2025, proyek penanganan longsegmen ruas jalan Wologai-Detukeli di Kabupaten Ende terus menunjukkan progres signifikan. Meski 0⁰menghadapi tantangan adat dan kondisi geografis yang berat, PT Yetty Darmawan sebagai kontraktor pelaksana optimis dapat merampungkan proyek senilai Rp4,94 miliar ini tepat waktu.
Konstantinus Yeter Yanto, perwakilan PT Yetty Darmawan, menjelaskan bahwa dari total panjang jalan 2,2 kilometer, 785 meter di antaranya sudah diaspal. Sementara sisanya, sepanjang 1.415 meter, masih dalam tahap pengerjaan dasar.
“Kami menghadapi kendala adat Pire di wilayah Wologai dan Detukeli. Saat upacara adat berlangsung, seluruh aktivitas pekerjaan harus dihentikan. Di Wologai kegiatan ini berlangsung selama 10 hari, sedangkan di Detukeli selama dua hari,” ungkap Konstantinus.
Meskipun demikian, ia tetap optimis proyek dapat diselesaikan tepat waktu. “Jika seluruh ruas sudah diaspal, berarti sekitar 90 persen pekerjaan selesai. Sisanya hanya pekerjaan minor dan bahu jalan. Waktu masih cukup,” ujarnya.
PPK Dinas PUPR NTT, Jarot A. Nugroho, menjelaskan bahwa ruas jalan ini memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi masyarakat dan sektor pariwisata di Kabupaten Ende.
“Jalan Wologai–Detukeli menghubungkan antar kecamatan, serta menjadi akses menuju Kampung Adat Wologai, Desa Wisata Wologai Tengah, dan Hutan Wisata Kabesani. Peningkatan kualitas jalan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata,” jelas Jarot.
Kepala Desa Wologai Tengah, Emilianus Linu, menyambut baik realisasi proyek ini. Ia mengatakan bahwa masyarakat telah lama menantikan pembangunan jalan tersebut.
Emilianus juga menjelaskan mengenai upacara adat Pire yang merupakan tradisi turun-temurun pasca panen. “Itu bagian dari penghormatan adat. Tapi setelahnya, masyarakat ikut membantu proses pengerjaan, termasuk dalam pelebaran jalan di beberapa titik,” tambahnya.
Desa Wologai Tengah sendiri dikenal sebagai desa wisata unggulan yang menjadi jalur singgah wisatawan dari Danau Kelimutu sebelum menuju Kampung Adat Wologai, dengan rata-rata 30 kunjungan wisatawan per hari.
“Jalan yang baik sangat penting karena kesan pertama wisatawan adalah akses menuju desa kami. Selama ini transportasi sulit, tapi kini masyarakat merasa…” ungkap Emilianus.
Ruas jalan Wologai–Detukeli juga berfungsi sebagai jalur alternatif menuju Maurole dan Maumere melalui lintas utara Flores, yang diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat














Komentar