NTTBersuara.id,SUMBA TENGAH,– Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama rombongan Tim Kerja Percepatan Pembangunan NTT melanjutkan kunjungan kerja di Kabupaten Sumba Tengah pada Minggu 15 Marer 2026 siang. Pertemuan bersama para pemangku kepentingan berlangsung di Aula Bapperida Kabupaten Sumba Tengah, dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah dan unsur Forkopimda setempat.
Rombongan diterima oleh Bupati Sumba Tengah Paulus Sekayu Karugu Limu, Wakil Bupati Marthinus Umbu Djoka, serta Ketua DPRD Kabupaten Sumba Tengah Arpud Rauta Manga Lema beserta jajarannya, termasuk para camat, kepala desa/lurah, kepala sekolah, kepala puskesmas, dan perwakilan Bank NTT.
Dalam sambutannya, Bupati Sumba Tengah Paulus S.K. Limu menyampaikan apresiasi atas kunjungan Gubernur dan menyampaikan komitmen daerah dalam menurunkan angka kemiskinan meskipun tergolong daerah 3T dengan kapasitas fiskal yang relatif kecil. Target penurunan kemiskinan sekitar 2 persen ditetapkan untuk tahun ini.
Salah satu program unggulan yang terus didorong adalah Program Rumah Mandiri Terintegrasi, yang tidak hanya menyediakan hunian layak tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi keluarga. Melalui program ini, ribuan rumah sehat dibangun dengan fasilitas sanitasi, listrik, dan pekarangan produktif.
“Rumah yang dibangun tidak hanya untuk tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi keluarga,” ujar Bupati.
Program ini diperkuat melalui PK POM (Pekarangan Pro Oli Mila), di mana setiap keluarga penerima manfaat mendapatkan dukungan berupa tiga ekor kambing, sebelas ekor bebek, seribu ekor ikan lele, serta pengembangan tanaman hortikultura di lahan pekarangan sekitar dua are. “Program ini diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan keluarga sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per bulan,” jelasnya.
Namun demikian, Bupati mengakui tantangan di sektor pendidikan, di mana sekitar 30 persen anak sekolah harus menempuh jarak jauh melewati padang savana. “Ada anak-anak sekolah dasar yang harus berjalan kaki hingga sekitar 10 kilometer setiap hari. Bahkan jarak tempuh pulang pergi bisa mencapai 40 kilometer. Ini kondisi riil yang kami hadapi,” katanya, menyampaikan kebutuhan akan dukungan untuk menghadirkan sekolah rakyat maupun sekolah terintegrasi.
Sementara itu, Gubernur Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah. “Saya ketika tiba di sini merasa senang, karena komitmen kerakyatannya sangat kuat,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa masyarakat miskin merupakan “harta karun” bagi pemimpin, karena melalui pelayanan yang baik dapat memberikan manfaat baik di dunia maupun akhirat.
Gubernur menyampaikan bahwa angka kemiskinan di NTT menunjukkan tren penurunan sekitar 1,52 persen dan diharapkan terus membaik hingga September 2026. “Ke depan, pemerintah akan melakukan pembenahan data kemiskinan serta mengintegrasikan berbagai program penanganan kemiskinan agar lebih terpadu antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi NTT mengalokasikan anggaran sekitar Rp157 miliar untuk pembangunan rumah layak huni, yang disebut sebagai alokasi terbesar sepanjang sejarah. “Program ini akan kita mulai dengan fokus awal di Sumba Tengah,” kata Gubernur.
Ia juga menekankan pentingnya pemetaan program penanggulangan kemiskinan secara terpadu agar tidak terjadi tumpang tindih dan bantuan tepat sasaran, terutama bagi desa-desa dengan tingkat kemiskinan ekstrem. Selain itu, pemerintah provinsi akan membentuk tim pendamping untuk membantu masyarakat mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR), mulai dari pemenuhan persyaratan hingga pelatihan literasi keuangan.
“Pola ekonomi masyarakat NTT yang selama ini cenderung konsumtif perlu diarahkan menjadi lebih produktif,” tegasnya.
Di sektor pertanian, Gubernur mendorong peningkatan nilai tambah produk lokal melalui pengolahan dan pengemasan sebelum dijual ke pasar, mencontohkan sentra beras di Maropokot yang telah mampu meningkatkan nilai jual produknya. “Saya minta tolong kepada Bupati, kalau bisa hasil produksi diolah dan dikemas terlebih dahulu sebelum dijual, beras yang kita panen, kita kemas dulu baru jual,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pengoptimalan 42 Koperasi Desa Merah Putih di Sumba Tengah untuk meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat desa.
“Semua ini kita lakukan untuk mendorong kemandirian daerah,” pungkas Gubernur Melki.
Menutup pertemuan, Gubernur menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dunia usaha, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan serta memperkuat ekonomi kerakyatan di NTT.(lya)














Komentar