NTTBersuara.id,KUPANG,–Ketua Lamaholot NTT, Don Ara Kian, menyampaikan rencana penyelenggaraan Festival Budaya Lamaholot yang akan digelar pada 10–11 April 2026 sebagai upaya mendorong penguatan pariwisata budaya dan ekonomi kawasan di wilayah timur Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pernyataan tersebut disampaikan Don Ara Kian kepada awak media pada Rabu 8 April 2026 di pelataran Kantor DPRD NTT, usai melakukan audiensi dengan Ketua DPRD NTT, Emelia Julia Nomleni.
“Kami berencana pada tanggal 10 sampai 11 April melaksanakan sebuah event besar dalam format Festival Budaya Lamaholot,” ujarnya.
Menurutnya, festival yang berlangsung selama dua hari akan menghadirkan rangkaian kegiatan yang berbeda. Pada hari pertama (10 April), akan digelar seminar nasional yang mengangkat tema kawasan ekonomi khusus (KEK). “Ini adalah sebuah ide yang akan kami jadikan materi utama seminar, dengan menghadirkan berbagai narasumber, termasuk perwakilan pemerintah, perbankan, dan kepala daerah,” jelasnya.
Selain seminar, kegiatan tersebut juga akan dirangkaikan dengan pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Masyarakat dapat melihat langsung berbagai produk khas daerah, termasuk olahan pangan tradisional. “Kalau mau melihat produk seperti titi jagung dan berbagai olahan lainnya, bisa hadir pada kegiatan tersebut,” tambahnya.
Pada hari kedua (11 April), akan menjadi puncak acara berupa gebyar budaya Lamaholot yang menampilkan kekayaan tradisi dan kearifan lokal masyarakat.
Don Ara Kian menegaskan bahwa gagasan utama festival ini berangkat dari semangat pengembangan pariwisata budaya, dengan mengutamakan keberhasilan pengembangan kawasan pariwisata premium di Labuan Bajo sebagai inspirasi.
“Kita mengetahui bahwa di ujung barat NTT, Labuan Bajo telah dikembangkan sebagai destinasi pariwisata premium. Keinginan kami adalah menghadirkan konsep serupa di wilayah timur,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kawasan timur NTT memiliki potensi besar, khususnya dalam sektor maritim dan budaya. Kekayaan biota laut serta tradisi masyarakat pesisir yang telah berlangsung selama ratusan tahun menjadi nilai tambah yang dapat dikembangkan.
“Ini adalah peradaban tua, terutama dari sisi kelautan. Tradisi melaut dan menangkap ikan sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, dan itu menjadi kekuatan budaya yang harus diangkat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut sejumlah daerah seperti Lembata dan Alor yang memiliki kekhasan budaya dan potensi wisata bahari yang kuat. Tradisi penangkapan ikan paus di Lembata serta kekayaan biota laut di Alor dinilai sebagai daya tarik tersendiri.
Dalam konteks pengembangan kawasan ekonomi, Don Ara Kian menekankan bahwa konsep KEK yang diusung tidak harus dimaknai secara kaku seperti kawasan industri besar, melainkan pada kolaborasi antarwilayah berbasis potensi lokal.
“Kami tidak memaknai kawasan ekonomi khusus seperti model industri besar. Tetapi lebih pada bagaimana setiap kabupaten dengan potensinya bisa saling menopang dan menjadi pemasok satu sama lain,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan konsep tersebut dengan program pengembangan berbasis komunitas dan produk unggulan daerah. Menurutnya, setiap wilayah memiliki kekhasan budaya, termasuk kuliner tradisional seperti jagung titi yang memiliki cita rasa berbeda di setiap daerah.
“Setiap daerah punya identitasnya masing-masing. Itu yang ingin kita dorong agar menjadi kekuatan ekonomi berbasis budaya,” pungkasnya.(lya)











Komentar