GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Stabilitas Sistem Keuangan Nasional Tetap Terjaga, KSSK: Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tumbuh hingga 6 Persen

Stabilitas Sistem Keuangan Nasional Tetap Terjaga, KSSK: Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tumbuh hingga 6 Persen

Stabilitas Sistem Keuangan Nasional Tetap Terjaga, KSSK: Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tumbuh hingga 6 Persen

NTTBersuara.id,JAKARTA,–Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan nasional pada triwulan II 2026 tetap terjaga meski perekonomian global dibayangi meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik, tekanan inflasi, dan volatilitas pasar keuangan internasional.

Dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan terus diperkuat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

KSSK menilai ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Konsumsi rumah tangga tetap terjaga berkat berbagai program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, serta stimulus pemerintah. Investasi juga diperkirakan tetap tumbuh didukung proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur prioritas.
Untuk keseluruhan tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada pada kisaran 5,6–6,0 persen, meski risiko global masih perlu diwaspadai.

Di sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia selama Januari–Juni 2026 masih mencatat surplus sebesar USD 3,58 miliar, sementara cadangan devisa tetap kuat di level USD 145,6 miliar, setara pembiayaan 5,5 bulan impor.

Inflasi juga dinilai tetap terkendali. Pada Juli 2026, inflasi tahunan tercatat 2,88 persen, berada dalam kisaran sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Penurunan inflasi terutama didorong meredanya harga sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah dan cabai.

Transaksi BNIdirect Tembus Rp6.039 Triliun, Bukti Kepercayaan Bisnis pada Layanan Digital BNI

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI mempertahankan kebijakan moneter yang ketat setelah sebelumnya menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen. Bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing serta memperluas berbagai insentif guna menarik aliran modal asing.

Sementara itu, kondisi sektor perbankan tetap solid. Hingga Juni 2026, kredit perbankan tumbuh 12,67 persen secara tahunan menjadi Rp9.080,9 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di level 2,09 persen. Permodalan perbankan juga kuat, tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,70 persen.

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat tertekan pada triwulan II. Per 31 Juli 2026, IHSG ditutup pada level 6.236,13, naik lebih dari 10 persen dibandingkan akhir Juni.

Kinerja industri jasa keuangan juga tetap terjaga. Industri asuransi, dana pensiun, perusahaan pembiayaan, hingga sektor aset kripto dinilai memiliki ketahanan yang memadai. Hingga Juni 2026, jumlah investor aset kripto tercatat mencapai 22,69 juta dengan nilai transaksi sebesar Rp28,58 triliun.

Di bidang fiskal, realisasi APBN hingga akhir triwulan II 2026 menunjukkan kinerja positif. Pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656 triliun. Pemerintah menegaskan APBN tetap berfungsi sebagai peredam gejolak ekonomi melalui subsidi, bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, hingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Garuda Sakti Cross Border Fest 2026: BI NTT Perkuat Kedaulatan Rupiah dan Ekonomi di Beranda Negeri

KSSK menegaskan seluruh otoritas akan terus memperkuat koordinasi dalam mengantisipasi risiko global, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta mendukung pembiayaan sektor riil dan berbagai program prioritas pemerintah agar pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkelanjutan.
(lya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement