NTTBersuara.id,KUPANG,–Kepala BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur, Matamira B. Kale, menyampaikan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Maret 2026 mengalami Inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 2,40 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,41. Data ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu 1 April 2026 sebagai bagian dari publikasi resmi statistik periode Maret 2026.
“Pada Maret 2026, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami Inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 2,40 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,41. Inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 2,88 persen dengan IHK 112,33, sedangkan yang terendah di Kabupaten Ngada sebesar 1,51 persen dengan IHK 109,13,” ujarnya dalam konferensi pers.
Menurutnya, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada 8 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok yang mengalami kenaikan harga antara lain: makanan, minuman, dan tembakau (2,11 persen); pakaian dan alas kaki (0,22 persen); perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,56 persen); kesehatan (1,70 persen); transportasi (2,15 persen); rekreasi, olahraga, dan budaya (0,64 persen); penyediaan makanan dan minuman/restoran (1,16 persen); serta perawatan pribadi dan jasa lainnya (20,44 persen).
“Sementara tiga kelompok lainnya mengalami penurunan harga, yaitu perlengkapan rumah tangga (0,06 persen); informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,64 persen); serta pendidikan (2,29 persen),” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa secara month to month (m-to-m) inflasi NTT pada Maret 2026 mencapai 0,20 persen. Produk yang menjadi kontributor utama inflasi adalah tepung terigu, minyak goreng, dan rokok kretek filter. “Produk-produk seperti tepung terigu, minyak goreng, dan rokok kretek filter menjadi kontributor utama kenaikan harga yang menyebabkan inflasi,” ujarnya.
Selain itu, inflasi y-on-y di NTT juga lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 2,62 persen. “Inflasi di Provinsi NTT sebesar 2,40 persen lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 2,62 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi di daerah berjalan dengan baik,” tegasnya.
Secara month to month (m-to-m) inflasi mencapai 0,20 persen. Secara year-to-date (y-to-d) inflasi mencapai 1,35 persen. Ia juga menyampaikan bahwa neraca perdagangan Januari–Februari 2026 menunjukkan surplus sebesar US$ 9,02 juta dengan nilai ekspor US$ 9,72 juta dan impor US$ 0,71 juta. (lya)











Komentar