NTTBersuara.id,KUPANG,– Yayasan CIS Timor bersama mitra melanjutkan kegiatan “Ruang Temu Pentahelix: Berbagi Makna, Meluaskan Aksi” dengan semangat AU BISAA (Kepemimpinan Perempuan: Berdaya Melalui Energi Hijau, Menuju Desa yang Adaptif & Aman Bencana) pada hari kedua, Jumat 13 Maret 2026 di Hotel Swiss Belcourt Kupang. Kegiatan ini diselenggarakan melalui program WE for JET dengan dukungan Penabulu Foundation dan Oxfam Australia, serta kolaborasi dengan program PAR CORRECT IV yang didukung oleh Catholic Relief Services (CRS) dan MACP.
Dengan tema utama “Perempuan Berdaya, Energinya Hijau, Desanya Aman Bencana” serta fokus pada “Kepemimpinan dan Penguatan Perempuan dan Kelompok Rentan dalam Transisi Transformatif dan Energi Berkeadilan di Indonesia”, hari kedua kegiatan menghadirkan sesi Parallel Cerita & Inspirasi antara Desa dan Kota yang dibagi menjadi 5 kelas berbeda, yaitu:
1. Kelas “Membangun Kepemimpinan Transformatif Perempuan di desa untuk Masa Depan Energi Terbarukan yang Berkelanjutan”
2. Kelas “Peran Laki-laki dalam Mendukung Kepemimpinan Perempuan dan Energi Terbarukan yang Berkelanjutan di Desa”
3. Kelas “Menerapkan teknologi ramah Lingkungan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
4. Kelas “Membangun Usaha Ekonomi Kelompok Perempuan: Strategi Pengemasan dan Izin Usaha yang Efektif”
5. Kelas Civic Engagement (khusus)
Pada kelas pertama yang membahas tentang kepemimpinan perempuan di desa, narasumber Ana Djukana menyampaikan pandangan bahwa kepemimpinan perempuan harus dibangun mulai dari tingkat terkecil sebelum menjangkau kebijakan publik.
“Bicara tentang kepemimpinan perempuan, kita tidak berbicara perempuan di level atas saja. Kita mulai dari kepemimpinan perempuan dalam keluarga, dimana kita bisa mempengaruhi suami untuk mengubah kebiasaan,” ujar Ana.
Ia menyoroti ketidakseimbangan peran yang selama ini terjadi dalam masyarakat. “Patrealki bahwa peran-peran domestik dibebankan ke perempuan sedangkan laki-laki ada di ruang publik. Padahal berbagai beban yang selama ini dianggap sebagai urusan perempuan, laki-laki juga bisa mengerjakan peran-peran domestik untuk kesehatan perempuan, kesejahteraan perempuan dan kebahagiaannya,” jelasnya.
Menurut Ana, kebahagiaan dalam rumah tangga menjadi dasar penting untuk mendorong perubahan kebijakan yang lebih inklusif. “Kebahagiaan di dalam rumah tangga ya mendorong kepemimpinan perempuan untuk merubah kebijakan itu yang lebih inklusif. Saya kasih contoh di negara-negara Skandinavia itu karena perempuannya banyak yang memiliki representasi di level pemimpin, di tingkat tinggi misalnya di DPR maupun di level eksekutif, maka kebijakan-kebijakan yang dibuat itu mensejahterakan perempuan,” katanya.
Ia mengajak agar perempuan mendapatkan kesempatan untuk ikut berperan dalam pembuatan kebijakan di tingkat desa. “Nah karena itu juga di level-level desa tadi kalau ada kesempatan untuk kita ikut berperan, jangan bertolak belakang lagi. Kita rebut kesempatan itu supaya kita bisa mendorong kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada perempuan,” ujarnya.
Ana memberikan contoh konkret kebijakan yang bisa mendukung perempuan di desa, “Misalnya kalau ada usulan di musrenbang untuk mendekatkan akses air ke rumah perempuan sehingga perempuan tidak jalan jauh untuk mengambil air. Karena saya lihat dari testimoni, ada banyak perempuan yang harus pergi jauh untuk mencari air. Atau mendekatkan lampu jalan ke tempat tinggal kita, atau memudahkan akses dana untuk membangun ekonomi perempuan.”
Ia menegaskan dua poin penting dalam upaya mendorong kepemimpinan perempuan, “Pesan kunci dalam upaya mendorong kepemimpinan perempuan adalah pembangunan inklusif yang berkelanjutan. Dia tidak stagnan saja ya, tetapi harus berkelanjutan. Kenapa harus inklusi? Karena dalam pembangunan itu tidak boleh satu orang pun ditinggalkan, termasuk teman-teman disabilitas, lansia – tidak boleh sama sekali tidak dilibatkan. Begitu satu orang tidak dilibatkan, itu berarti tidak inklusif.”
“Yang kedua, sebenarnya setiap perempuan itu memiliki potensi kepemimpinan yang dapat berkembang kalau ada kesempatan dan kita mendukung. Ya sama-sama mendukung. Jadi kata kuncinya harus ada kesempatan dan dukungan. Dan ketika perempuan sudah menjadi pemimpin, dia harus responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Dalam penutup paparannya, Ana mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan kesempatan yang sama bagi perempuan. “Masyarakat perlu menciptakan ruang yang adil bagi perempuan untuk menjadi pemimpin,” pungkasnya. (lya)













Komentar