NTTBersuara.id, KUPANG,–Yayasan CIS Timor, lembaga nirlaba yang bekerja dalam pembangunan inklusi dan manajemen kebencanaan, menyelenggarakan kegiatan “Ruang Temu Pentahelix: Berbagi Makna, Meluaskan Aksi” dengan semangat AU BISAA (Kepemimpinan Perempuan: Berdaya Melalui Energi Hijau, Menuju Desa yang Adaptif & Aman Bencana) Kamis 12 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program WE for JET (Women and Energy for Just Energy Transition) dengan dukungan Penabulu Foundation dan Oxfam Australia, serta berkolaborasi dengan program PAR CORRECT IV yang didukung oleh Catholic Relief Services (CRS) dan MACP.
Berdiri sejak 1999 sebagai respon kemanusian pasca-krisis Timor-Timur, CIS Timor saat ini berkembang dengan dua divisi utama: Divisi Pengurangan Resiko Terpadu dan Divisi Pembangunan Gender & Inklusi. Melalui program WE for JET, organisasi ini mendorong integrasi prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dalam kebijakan transisi energi di tingkat provinsi dan kabupaten, sejalan dengan upaya pemberdayaan masyarakat di tingkat desa dan komunitas.
Memasuki tahun ketiga pelaksanaan, program WE for JET berfokus pada peningkatan partisipasi perempuan dan kelompok rentan dalam pengambilan keputusan, perluasan akses terhadap energi terbarukan, penguatan UMKM yang dipimpin perempuan, serta peningkatan kapasitas organisasi masyarakat sipil, organisasi perempuan, dan organisasi penyandang disabilitas dalam mendorong transisi energi yang berkeadilan.
“Sesuai visi CIS Timor untuk menciptakan masyarakat sipil yang adil, demokratis, dan menghargai hak asasi manusia, kegiatan ini dimaksudkan agar terbentuk konektivitas antara komunitas, Organisasi Penyandang Disabilitas (DPO), Organisasi Perempuan (WRO), dan pemerintah daerah dalam membangun semangat kolaborasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar perwakilan CIS Timor.
Selain program WE for JET, kegiatan ini juga melibatkan program PAR CORRECT IV yang berfokus pada penguatan ketangguhan masyarakat terhadap perubahan iklim melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas. Salah satu strateginya adalah memperkuat kelompok pemasaran sebagai motor penggerak ekonomi lokal, agar kelompok—termasuk perempuan dan kelompok rentan—memiliki kapasitas dalam pengolahan, pengemasan, legalitas, hingga akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.
Kolaborasi kedua program ini bertujuan mendorong kepemimpinan perempuan dan memperkuat UMKM perempuan melalui praktik usaha ramah lingkungan dan pemanfaatan energi bersih di NTT. Melalui workshop, pameran, dan pitching, kegiatan ini mempertemukan kelompok usaha dengan ekosistem pentahelix (Pemerintah, Akademisi, Media, NGO/Organisasi Masyarakat Sipil, Komunitas/Masyarakat) untuk membuka akses pasar, pembiayaan, dan penguatan UMKM hijau yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu menyelaraskan visi dan pesan antara kebijakan pemerintah, organisasi masyarakat, dan komunitas agar pesan yang disampaikan ke masyarakat konsisten dan tepat sasaran; membangun kolaborasi antara berbagai pihak demi terciptanya ekosistem kualitas hidup yang inklusif; serta mengangkat praktik baik dari lapangan sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan UMKM hijau dan ekonomi lokal ke depan.
Di antara hasil yang diharapkan adalah peningkatan kapasitas advokasi bagi para perwakilan komunitas yang mampu melakukan pendekatan lebih humanis dan solutif serta terhubung dengan unsur-unsur pentahelix; terciptanya pusat pengetahuan berisi “Lesson Learned” pembelajaran praktis dari diskusi antar-perwakilan; terbentuknya solidaritas jejaring multisektor yang responsif antara pemangku kepentingan dan masyarakat; serta tercapainya dampak kampanye yang terukur yang mampu menggerakkan perubahan nyata di masyarakat.
Pada sesi talkshow hari pertama dengan tema “Kebijakan dan Komitmen Pentahelix dalam Mendukung Energi Ramah Lingkungan dan Kesiapsiagaan Bencana”, menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan. Di antaranya akademisi yang membahas pemanfaatan inovasi dan teknologi untuk mendukung ekonomi masyarakat berbasis energi terbarukan; perwakilan BAPPERIDA yang menyampaikan perencanaan energi di NTT; perwakilan program Part Correct IV yang membahas pembangunan ekonomi perempuan serta strategi pengurangan risiko bencana dan iklim; serta perwakilan CIS Timor yang menjelaskan strategi dan mekanisme kerja sama untuk mendorong kepemimpinan perempuan dan pemberdayaan ekonomi dengan pemanfaatan energi terbarukan.
Sebagai penanggap adalah perwakilan Dinas DP3AP2KB NTT yang menyampaikan potensi dan tantangan pengembangan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dengan dukungan energi ramah lingkungan berbasis komunitas; Dinas ESDM NTT yang membahas potensi dan tantangan pengembangan energi di NTT terutama berbasis komunitas; BPBD NTT yang menyampaikan gambaran menuju desa yang adaptif dan aman bencana dengan pemanfaatan energi terbarukan bagi mitigasi dan adaptasi bencana; serta YPPS yang menjelaskan strategi kerja sama untuk mendorong kepemimpinan perempuan dan pemberdayaan ekonomi di tingkat kabupaten/provinsi.
Acara dipandu oleh moderator Sherley Wila Huky, Ketua Analisis Mitigasi dan Sektor Energi Pokja Perubahan Iklim Provinsi NTT, yang juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan tanggapan dan masukan dalam sesi tanggapan dari peserta.











Komentar