NTTBersuara.id,JAKARTA,–Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menjadi salah satu narasumber dalam Diskusi Publik dan Buka Puasa Bersama Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) yang digelar di East Tower Lantai 42, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat 6 Maret 2026 sore.
Diskusi tersebut secara khusus menyoroti isu kesehatan mental, kemiskinan, dan perlindungan anak di era digital. Acara ini juga menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko; Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono; Asisten Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Endah Sri Rejeki; serta Sekjen Gekira, Jeremias Ndoen.
Ketua Umum Gekira, Nikson Silalahi, menegaskan, “Teknologi harus menjadi alat pemersatu bangsa, bukan ajang penyebaran ujaran kebencian dan pemecah belah.”
Data yang dipaparkan menyebutkan lebih dari 31 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, dengan 19 juta mengalami gangguan emosional dan 12 juta depresi. Narasumber menekankan bahwa kesehatan mental merupakan persoalan sosial yang membutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.
Dalam paparannya, Wakil Gubernur Johni menyoroti pentingnya literasi kesehatan mental di tengah meningkatnya kejahatan siber dan penggunaan gawai. “Secara nasional, sekitar 28 juta orang mengalami masalah kesehatan jiwa. Di NTT tantangan penanganannya makin kompleks karena kemiskinan, keterbatasan tenaga psikososial, dan stigma masyarakat,” ujarnya.
Johni menambahkan, “Kemudahan akses digital membuat anak dan remaja menghadapi tekanan sosial yang semakin kompleks sehingga penguatan ketahanan mental generasi muda wajib dilakukan melalui pendidikan dan lingkungan keluarga yang sehat.”
Kepala BP Taskin RI, Budiman Sudjatmiko, menyebutkan, “Masalah kesehatan mental bukan hanya persoalan individu tapi juga peradaban yang memerlukan keterlibatan semua pihak demi masyarakat yang aman dan penuh harapan.”
Menutup diskusi, Ketua Umum Gekira, Nikson Silalahi, menyatakan sejumlah rekomendasi, seperti menjadikan kesehatan mental prioritas nasional, memperluas layanan kesehatan mental, memperkuat perlindungan anak di ruang digital, serta meningkatkan ketahanan keluarga.(lya)













Komentar