GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
HUMANIORA
Beranda / HUMANIORA / 25 Jurnalis Bali-Nusa Tenggara Ikuti Pelatihan di Mataram – AJI: Waspadai Disinformasi yang Bisa Meruntuhkan Kepercayaan Publik

25 Jurnalis Bali-Nusa Tenggara Ikuti Pelatihan di Mataram – AJI: Waspadai Disinformasi yang Bisa Meruntuhkan Kepercayaan Publik

NTTBersuara.id,KUPANG,–Sebanyak 25 jurnalis dari wilayah Bali Nusa Tenggara mengikuti Workshop Penelusuran Sumber Terbuka dan Disinformasi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama AJI Mataram dengan dukungan Internews dan Uni Eropa di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 25–26 April 2026. Pelatihan ini bertujuan membekali wartawan dengan kemampuan menganalisis dan merespons manipulasi informasi yang kian masif di ruang digital.

Ketua AJI Mataram Wahyu Widiyantoro Sabtu 25 April di Hotel Lombok Astoria menekankan bahwa perkembangan media sosial dan platform digital telah membuka akses informasi yang luas. Namun, kemudahan ini di sisi lain menjadi sarana penyebaran manipulasi informasi yang dapat meruntuhkan kepercayaan publik.

“Fenomena ini mempengaruhi tingkat kepercayaan publik. Karena itu, jurnalis dituntut memiliki kemampuan analisis kritis serta keterampilan verifikasi informasi yang efektif,” ujar Wahyu.

Wartawan Dibekali Verifikasi Informasi, Waspadai Ancaman AI dan Love Scam

Melalui kegiatan ini, peserta dibekali pemahaman dan keterampilan praktis untuk memverifikasi informasi. Wahyu menyoroti tantangan baru yang dihadapi wartawan saat ini, mulai dari penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten hingga penipuan berbasis relasi emosional atau love scam.

Wali Kota Kupang Buka Lomba Baris Berbaris NTT – ‘Perbedaan Bukan Penghalang, Melainkan Kekuatan

Ia mengingatkan bahwa ancaman disinformasi seringkali tidak disadari. Tanpa pengetahuan yang cukup, jurnalis berisiko turut menyebarkan narasi yang sesat.

“Sering kali kita merasa tidak akan terdampak. Padahal tanpa disadari, kita bisa saja turut terlibat dalam penyebaran disinformasi yang berasal dari luar negeri,” tegasnya.

Oleh karena itu, Wahyu menegaskan pentingnya disiplin verifikasi informasi sebelum dipublikasikan. Pelatihan ini dirancang untuk memastikan wartawan memiliki alat yang tepat untuk mengidentifikasi dan menangani disinformasi, bukan malah menjadi penyebarnya.

Pelatihan Perkuat Ketahanan Kawasan Terhadap Ancaman Informasi

Lebih jauh, Wahyu menyatakan bahwa kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan kawasan terhadap ancaman informasi. Hal ini dinilai krusial bagi negara demokratis seperti Indonesia.

HUT ke-140 Kota Kupang & 30 Tahun Otonomi – Wali Kota: ‘Mari Bangun Kota dengan Cinta dan Persaudaraan

Wahyu berharap masyarakat tidak hanya membandingkan berita, tetapi mampu berpikir kritis sebelum mengambil kesimpulan.

“Pelatihan seperti ini menjadi penting, terutama bagi jurnalis yang menghadapi tantangan baru di era digital, agar tidak salah arah dalam menyajikan fakta,” ujarnya.

Salah satu peserta, Eviera mengatakan, pelatihan ini sangat berguna bagi jurnalis memahami frame dan konteks dalam sebuah berita atau informasi yang beredar di media sosial agar bisa menulis, meliput serta investigasi lebih dalam sesuai kode etik jurnalistik.

“Kita bisa mengetahui lebih dalam upaya-upaya dari pihak yang memanipulasi informasi dan cara menanggulanginya,” kata Eviera.(lya)

Wali Kota Kupang Terima Penghargaan Top Strategic Leadership dari Media Group

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement