NTTBersuara.id, KUPANG, — Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menegaskan pentingnya peran gereja sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan sosial, terutama pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pesan tersebut disampaikannya saat meresmikan Gedung Gereja GMIT Golgota Alak, Kota Kupang, Minggu 11 Oktober 2026. Dalam acara tersebut, ia hadir didampingi Staf Ahli TP PKK Provinsi NTT, Vera Asadoma.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menekankan bahwa pembangunan gedung gereja harus diikuti dengan pertumbuhan iman, kemajuan jemaat, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
“Gereja harus menjadi mitra strategis pemerintah. Salah satunya adalah membantu pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kita. Tanpa sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing, kita tidak akan maju. Gerejanya berdiri, tetapi kita juga harus melihat lingkungan masyarakatnya: apakah masyarakatnya maju? apakah jemaatnya maju? Nah, ini harus menjadi pemikiran kita,” ujar Wagub Johni.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan rumah ibadah tidak boleh terbatas pada pelaksanaan ibadah rutin setiap hari Minggu. Gereja diharapkan menjadi pusat pembinaan iman, pengembangan kapasitas jemaat, serta berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Rumah Tuhan yang bagus ini tidak hanya digunakan pada hari Minggu saja. Setiap hari, rumah Tuhan ini harus menyuarakan iman Kristen. Gereja ini harus diisi dengan berbagai kegiatan yang bertujuan menumbuhkembangkan iman jemaat, meningkatkan sumber daya manusia, serta meningkatkan kesejahteraan jemaat maupun masyarakat lainnya,” tegasnya.
Mengutip pemikiran dalam buku Menatap Masa Depan karya Pendeta Samuel Pandie dan rekan-rekan, Wakil Gubernur mengajak gereja untuk memperluas jangkauan pelayanannya hingga menyentuh persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, gereja harus hadir di tengah kehidupan sosial dan tidak hanya berfokus pada aktivitas di dalam gedung gereja.
“Gereja itu tidak hanya ada di mimbar-mimbar dalam gereja, tetapi gereja harus turun ke masyarakat dan melihat apa permasalahan yang dihadapi masyarakat. Pelayanan kita harus menjangkau ke luar, bukan hanya di dalam,” tambahnya.
Ketua Panitia Pembangunan, Christian Baitanu, dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan gedung gereja tersebut merupakan hasil dari komitmen, kerja sama, dan perjuangan panjang jemaat bersama berbagai pihak. Peletakan batu pertama dilakukan pada 7 September 2021 oleh Ketua Majelis GMIT Golgota Alak, di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi saat itu.
“Dalam perjalanan pembangunan ini, kami merasakan pertolongan Tuhan melalui swadaya jemaat, dukungan pemerintah, dan para donatur. Setelah melalui proses selama kurang lebih lima tahun, kerinduan jemaat akhirnya terwujud dengan berdirinya gedung kebaktian di atas lahan seluas 930 meter persegi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, panitia saat ini sedang mengumpulkan data dan dokumentasi perjalanan pembangunan gereja untuk disusun menjadi buku sejarah GMIT Golgota Alak yang direncanakan terbit pada tahun mendatang. Buku tersebut diharapkan menjadi dokumentasi perjuangan iman dan semangat pengorbanan generasi terdahulu bagi generasi penerus.
“Kemegahan gedung ini merupakan bukti keagungan Tuhan. Kami menyampaikan terima kasih kepada Tuhan Yesus, pemerintah, para donatur, dan seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan ini. Kiranya rumah Tuhan ini terus menjadi tempat untuk memuliakan nama Tuhan dari generasi ke generasi,” tutupnya.
Acara peresmian dan syukuran tersebut turut dihadiri Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Samuel Pandie, Para Pendeta, anggota DPRD Kabupaten Kupang, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Camat Alak, Lurah Alak, Ketua Klasis Kota Kupang Barat beserta jajaran, serta para presbiter dan jemaat GMIT Golgota Alak.(lya)



Komentar