NTTBersuara.id,KUPANG,– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kupang bersama FISIP Wahana mendorong masyarakat Desa Raporendu, Kecamatan Nangapenda, Kabupaten Ende, Flores, untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama dalam menghadapi situasi bencana.
Dorongan tersebut dilakukan melalui edukasi dan pendataan sanitasi berbasis masyarakat dalam program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang digelar di Desa Raporendu pada 13 Agustus 2026. Kegiatan melibatkan pemerintah desa, mahasiswa KKN, FISIP Wahana, serta masyarakat setempat.
Edukasi tidak hanya menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga penggunaan jamban yang layak dan menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan. Perilaku tersebut dinilai penting untuk mencegah pencemaran lingkungan dan mengurangi risiko munculnya penyakit.
Kepala Desa Raporendu, Ode Madi Haris, mengatakan persoalan sanitasi berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan tempat tinggal.
Menurut dia, masih terdapat warga yang menghadapi keterbatasan dalam mengakses atau menggunakan fasilitas jamban yang layak. Kondisi itu menjadi perhatian karena dapat memicu praktik buang air besar sembarangan yang berisiko mencemari sumber air dan lingkungan sekitar.
“Kami berharap melalui kegiatan ini masyarakat semakin memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun mahasiswa KKN, tetapi merupakan tanggung jawab bersama,” kata Ode Madi Haris.
Ia mengapresiasi keterlibatan mahasiswa KKN yang tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga turun langsung ke tengah masyarakat untuk melihat dan memahami persoalan yang dihadapi warga.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN bersama FISIP Wahana mengajak warga berdiskusi mengenai kondisi sanitasi di lingkungan mereka. Warga juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya jamban sehat, kebersihan lingkungan, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Selain edukasi, tim melakukan pendataan terhadap warga yang belum memiliki atau belum menggunakan jamban yang layak. Data tersebut diharapkan dapat menjadi bahan bagi pemerintah desa untuk menentukan langkah penanganan dan pendampingan sanitasi secara lebih tepat.
Dian, salah seorang mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mengatakan edukasi dilakukan dengan pendekatan langsung kepada masyarakat.
“Kami tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga berusaha memahami kondisi yang dihadapi masyarakat. Dari situ kami bisa melihat persoalan sanitasi secara lebih nyata dan bersama-sama mencari solusi,” ujar Dian.
Menurut dia, persoalan sanitasi tidak cukup hanya disampaikan melalui penyuluhan. Perubahan perilaku membutuhkan keterlibatan masyarakat dan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Ode Madi Haris mengatakan kesadaran mengenai sanitasi menjadi semakin penting dalam situasi bencana. Lingkungan yang tidak bersih dan buruknya sanitasi dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat dan akses terhadap air bersih maupun fasilitas sanitasi menjadi terbatas.
Karena itu, kebiasaan hidup bersih dan sehat perlu dibangun sejak dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika terjadi bencana.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kesadaran warga Raporendu dalam menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan jamban yang sehat, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat secara konsisten.
“Sanitasi adalah persoalan bersama yang harus ditangani secara berkelanjutan. Harapan kami, setelah kegiatan ini masyarakat semakin sadar dan mulai membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.
Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan edukasi dan pendataan. Dengan kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, mahasiswa, dan berbagai pihak, Desa Raporendu diharapkan mampu membangun lingkungan yang lebih sehat sekaligus lebih siap menghadapi berbagai situasi, termasuk bencana.
(goe)



Komentar