GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
HUMANIORA
Beranda » Berita » Karhutla Masih Mengganas, 186 Hektare Lahan Gambut di 6 Provinsi Terbakar

Karhutla Masih Mengganas, 186 Hektare Lahan Gambut di 6 Provinsi Terbakar

Pertemuan antara jajaran BNPB dengan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan di Graha BNPB, Jakarta, pada Selasa (6/10).

NTTBersuara.id, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang memiliki kawasan gambut masih dalam kondisi berat.

Hingga Selasa 6 Oktober 2026, tim gabungan masih berjibaku memadamkan kebakaran yang melanda sekitar 186 hektare lahan gambut.

Hal itu disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M. seusai menerima kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman di Graha BNPB, Jakarta, Selasa.

“Kondisi karhutla sampai hari ini memang masih berat di enam provinsi lahan gambut. Tadi kami laporkan ke Bapak Menko, yang sedang dipadamkan hari ini ada 186 hektare,” ujar Suharyanto.

Enam provinsi yang menjadi fokus penanganan karhutla tersebut yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Wagub Johni Lirik Potensi Wisata Bendungan Raknamo, dari Jetski hingga Arena Berkemah

Selain di enam provinsi tersebut, BNPB mencatat 13 kejadian kebakaran di wilayah lain dengan luas lahan terbakar lebih dari 400 hektare.

Menurut Suharyanto, kebakaran di lahan mineral relatif lebih mudah dipadamkan dibandingkan kebakaran di lahan gambut.

“Pemadaman di lahan gambut sangat sulit. Hari ini bisa dipadamkan semua, belum tentu besok sudah selesai karena bisa muncul titik kebakaran baru,” katanya.

Kabut Asap Ganggu Penerbangan

Kondisi karhutla paling parah saat ini terpantau di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kabut asap pekat di kedua wilayah tersebut bahkan telah mengganggu aktivitas penerbangan.

Wagub Johni: Pembangunan Perbatasan NTT Harus Terintegrasi, Jangan Ada Ego Sektoral

Sementara di Jambi, titik api kembali muncul setelah sebelumnya sempat terkendali. Kebakaran terjadi di kawasan Taman Nasional Bukit Sembilan dan sempat menghanguskan sekitar 300 hektare lahan.

Namun, luas kebakaran kini berhasil ditekan menjadi sekitar 140 hektare. Kawasan tersebut bukan merupakan lahan gambut sehingga penanganannya relatif lebih mudah.

BNPB juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat.

Distribusi masker dilakukan di sejumlah wilayah terdampak. BNPB juga mencatat adanya peningkatan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Berharap Hujan Segera Turun

Simfoni Persaudaraan GMIT Digelar, Pemkot Kupang Gelontorkan Dukungan Rp100 Juta

Pemerintah berharap hujan segera turun untuk membantu proses pemadaman karhutla.

Berdasarkan prediksi BMKG, hujan diperkirakan mulai turun paling cepat pada minggu ketiga Oktober dan paling lambat pada minggu ketiga November.

Suharyanto mengatakan kondisi karhutla tahun ini juga dipengaruhi fenomena El Nino yang datang lebih cepat dari siklus yang biasanya terjadi.

“Biasanya kita mengalami siklus empat tahunan seperti 2015, 2019, 2023. Seharusnya siklus berikutnya di 2027, tetapi alam tidak bisa diprediksi. Di tahun 2026 ini kita kembali mengalami kondisi El Nino dengan kebakaran yang cukup besar,” katanya.

BNPB bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah akan terus melakukan pemadaman, penanganan dampak asap, serta mendistribusikan peralatan yang dibutuhkan masyarakat selama kondisi karhutla masih berlangsung. (lya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement