GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
HUMANIORA
Beranda » Berita » Pukul Lima Pagi, Ongki Sudah Menyapu Kantor – Dari Cleaning Service Kini Jadi ASN PPPK Tetap Jaga Kebersihan dengan Hati

Pukul Lima Pagi, Ongki Sudah Menyapu Kantor – Dari Cleaning Service Kini Jadi ASN PPPK Tetap Jaga Kebersihan dengan Hati

Pukul Lima Pagi, Ongki Sudah Menyapu Kantor – Dari Cleaning Service Kini Jadi ASN PPPK Tetap Jaga Kebersihan dengan Hati

NTTBersuara.id,KUPANG,–Ketika sebagian besar warga Kota Kupang masih terlelap, sebuah sepeda motor melaju dari kawasan Sokon, Kelurahan Fatukoa, menuju kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang. Perjalanan sekitar 13 kilometer itu ditempuh hampir satu jam melewati jalan yang sebagian masih berlubang dan melintasi wilayah Desa Oelomin, Kabupaten Kupang.

Sebelum jarum jam menunjukkan pukul 05.00 WITA, Ongki Aluman telah tiba di kantor. Di tangan kanannya tergenggam sapu. Ember dan alat pel segera disiapkan. Lantai kantor disapu dan dipel, halaman dibersihkan, serta setiap sudut ruangan dipastikan rapi sebelum para pegawai mulai berdatangan.

Pemandangan itu sesungguhnya tidak berbeda dengan empat tahun lalu ketika Ongki masih bekerja sebagai tenaga cleaning service di kantor tersebut. Yang berubah hanyalah statusnya – pada 2025, ia dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan kini resmi menyandang status Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan jabatan Penata Administrasi Perkantoran. Sebuah pencapaian yang menjadi harapan banyak tenaga honorer.

“Menjadi ASN Bukan Berarti Harus Berhenti Bekerja Seperti Dulu”

Namun, perubahan status itu tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan yang telah lama menjadi bagian dari kesehariannya. Setiap pagi, Ongki tetap datang paling awal. Ia masih menyapu, mengepel, dan membersihkan lingkungan kantor dengan penuh tanggung jawab. Setelah seluruh pekerjaan kebersihan selesai dan aktivitas perkantoran dimulai, barulah ia menjalankan tugas administrasi sebagai ASN.

Karhutla dan Kekeringan Jadi Perhatian BNPB, 222 KK di Aceh Tamiang Mengungsi akibat Banjir

Rutinitasnya bahkan belum berakhir ketika jam kerja usai. Saat sebagian besar pegawai telah pulang, Ongki masih bertahan di kantor untuk membereskan dan membersihkan sejumlah ruangan agar keesokan paginya pekerjaan menjadi lebih ringan. Tak jarang, ia baru meninggalkan kantor sekitar pukul 19.00 hingga 20.00 WITA sebelum kembali menempuh perjalanan panjang menuju rumahnya.

“Saya tetap mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan. Bagi saya, kebersihan kantor adalah tanggung jawab bersama, dan saya sudah terbiasa memulainya sejak masih menjadi tenaga cleaning service. Menjadi ASN bukan berarti saya harus berhenti bekerja seperti dulu,” ujar Ongki.

Ia mengakui, jarak rumah yang cukup jauh membuat tenaga dan waktunya terkuras setiap hari. Karena itu, ia berharap Pemerintah Kota Kupang dapat menyediakan tenaga cleaning service untuk membantu pekerjaan kebersihan di kantor.

“Kalau ada tenaga cleaning service, tentu pekerjaan akan lebih ringan. Rumah saya cukup jauh dari kantor sehingga setiap hari saya harus berangkat sangat pagi dan pulang cukup malam. Saya berharap ke depan ada petugas yang bisa membantu agar saya dapat lebih fokus menjalankan tugas administrasi kantor sebagai ASN,” katanya.

“Tidak Ada Pekerjaan yang Rendah Selama Dilakukan dengan Jujur”

Wagub NTT Dorong Hilirisasi Jambu Mete di Alor, Nilai Jual Bisa Naik Tiga Kali Lipat

Bagi Ongki, tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Di balik rutinitas yang dijalaninya setiap hari, tersimpan tanggung jawab yang tidak ringan. Ia menjadi tulang punggung keluarga dengan menghidupi seorang istri dan dua anak yang masih balita. Perjalanan pulang-pergi yang panjang, pekerjaan yang dimulai sejak dini hari, hingga tugas administrasi yang menanti di kantor dijalaninya tanpa banyak mengeluh.

Kisah Ongki menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu mengubah seseorang. Ada orang-orang yang justru semakin rendah hati ketika memperoleh kesempatan yang lebih baik. Di tengah kehidupan birokrasi yang kerap diwarnai kisah tentang jabatan dan karier, Ongki menunjukkan makna lain dari pengabdian. Menjadi ASN bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi, melainkan kesempatan untuk melayani dengan lebih baik.

Setiap sapuan yang ia lakukan sebelum matahari terbit seolah menjadi simbol bahwa dedikasi tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kesediaan seseorang bekerja dengan tulus. Dari seorang petugas kebersihan hingga menjadi ASN PPPK, Ongki memilih tetap setia pada nilai yang sama: bekerja sepenuh hati, apa pun tugas yang dipercayakan kepadanya. (goe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement