NTTBersuara.id,KUPANG,– Di sebuah ruangan sederhana milik Susteran Putri Reinha Rosari (PRR) di kawasan Naikoten II, Kupang, percakapan mengalir hangat. Sejumlah pria dan perempuan duduk mengitari sebuah meja kecil panjang yang dipenuhi botol air minum dan sisa kudapan. Tak ada kemewahan, tetapi dari ruang itulah sebuah agenda besar mulai dirajut: Musyawarah Nasional (Munas) dan Internasional Sahabat Monsinyur Gabriel Manek (SMGM) bakal digelar di Kota Kupang Agustus 2027.
Suasana pertemuan itu terasa akrab, namun sarat makna. Satu per satu peserta menyampaikan pandangan, sesekali diselingi tawa ringan sebelum kembali fokus membahas struktur kepanitiaan dan rencana kerja. Tak ada kemewahan yang menghiasi ruangan, hanya sebuah meja panjang dan botol air minum yang menjadi saksi bagaimana gagasan besar mulai terbentuk.
Bagi komunitas SMGM, Munas bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia adalah ruang refleksi sekaligus penentu arah perjalanan organisasi yang telah menjangkau hampir seluruh provinsi di Indonesia, bahkan memiliki jejak hingga Kenya Afrika, Australia, dan Timor Leste.
Penasehat SMGM Pusat, Dr. Antonius Bele, menyebut pertemuan itu sebagai langkah awal yang penting. Munas 2027, menurut dia, akan menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi selama tiga tahun terakhir, sekaligus memilih kepengurusan baru yang akan melanjutkan estafet pelayanan.
“Kita sedang membangun fondasi yang kokoh untuk acara yang akan datang. Setiap langkah persiapan harus berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan oleh Mgr. Gabriel Manek,” ujarnya.
Di sisi lain, Koordinator SMGM Keuskupan Agung Kupang yang juga Ketua Panitia Munas, Adrianus Ceme, tampak mencermati dan mencatat sekaligus menjawab setiap usulan anggota panitia. Baginya, waktu yang tersisa menuju Agustus 2027 harus dimanfaatkan dengan cermat. Dengan perkiraan sekitar 1.000 – 1.500 orang peserta dari berbagai daerah, bahkan luar negeri, persiapan tak bisa dilakukan setengah hati.
“Kerja panitia harus mulai dari sekarang, tersusun rapi, dan berjalan sesuai bidang masing-masing,” ujarnya dalam nada tenang, namun tegas.
Sebagai organisasi yang lahir dari spiritualitas Suster-suster PRR yang dilahirkan oleh Mgr Gabriel Manek semasa hidupnya, semangat pelayanan menjadi napas utama gerakannya. Tak hanya berkonsentrasi pada kegiatan formal, tetapi juga pada pembentukan karakter dan semangat persaudaraan yang tulus.
Sementara itu, Pastor Moderator SMGM, RD Longginus Bone, menegaskan bahwa persiapan Munas tidak boleh hanya berhenti pada urusan administrasi dan logistik. Lebih dari itu, setiap proses harus berakar pada nilai-nilai iman yang diwariskan oleh Monsinyur Gabriel Manek.
“Yang kita bangun bukan hanya kegiatan, tetapi juga semangat pelayanan yang tulus kepada sesama,” ungkapnya.
Menjelang akhir pertemuan, Suster Lusiani, PRR yang merupakan Pemimpin Umum Kongregasi PRR, yang tengah dalam perjalanan dan akan kembali ke rumah induk di Larantuka, sempat memberikan pesan kepada Panitia Munas SMGM 2027. Ia menyampaikan bahwa kehadiran SMGM juga berkontribusi dalam memperkenalkan tarekat PRR secara lebih luas kepada masyarakat. Melalui aktivitas doa, pelayanan sosial, dan kebersamaan umat, spiritualitas PRR semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya secara nyata.
Terkait persiapan Munas SMGM 2027, Sr. Lusiani menyatakan optimisme bahwa seluruh rangkaian kegiatan akan berjalan dengan baik dan lancar. Keyakinan tersebut, kata dia, lahir dari proses persiapan yang dilakukan secara serius, terencana, dan dilandasi semangat kebersamaan.
“Persiapan yang dilakukan tidak sekadar formalitas, tetapi sungguh dijalankan dengan kesungguhan dan semangat persaudaraan yang tulus,” katanya.
Dari ruang sederhana itu, langkah menuju Munas SMGM 2027 di Kupang mulai disusun. Perlahan, namun pasti, menenun harapan, menyatukan pelayanan, dan menjaga nyala semangat SMGM yang telah diwariskan sejak awal.(lya)



Komentar