GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
HUMANIORA
Beranda / HUMANIORA / FTBM Indonesia: ‘Semangat Kerelawanan Tidak Cukup – TBM Harus Punya Tata Kelola yang Kokoh dan Berkelanjutan’

FTBM Indonesia: ‘Semangat Kerelawanan Tidak Cukup – TBM Harus Punya Tata Kelola yang Kokoh dan Berkelanjutan’

FTBM Indonesia: 'Semangat Kerelawanan Tidak Cukup – TBM Harus Punya Tata Kelola yang Kokoh dan Berkelanjutan'

NTTBersuara.id,KUPANG,–Banyak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan komunitas literasi di berbagai daerah di Indonesia lahir dari semangat kerelawanan untuk menjawab minimnya akses bacaan dan kegiatan pendidikan di lingkungan sekitar.
Namun, semangat tersebut perlu ditopang dengan tata kelola organisasi yang baik agar gerakan literasi dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

Pesan itu disampaikan Ketua Forum TBM Indonesia (FTBM I) Dr. Nero Taopik A., M.Pd., yang akrab disapa Kang Opik, saat memberikan materi secara daring dalam kegiatan Pendampingan Pegiat Literasi NTT yang berlangsung di Aula LPMP NTT, Kamis 4 Juni 2026 yang di gelar Balai Bahasa NTT.

Menurut Opik, sebagian besar pegiat literasi mendirikan taman baca karena merasa terpanggil melihat belum tersedianya perpustakaan, ruang baca, maupun aktivitas pendidikan yang memadai di kampung atau daerah mereka. Bahkan, tidak sedikit pengelola taman baca yang awalnya bukan pembaca aktif, tetapi memiliki kepedulian untuk membuka akses literasi bagi masyarakat.

“Banyak komunitas literasi lahir dari semangat membantu. Buku dikumpulkan, ruang baca dibuka, lalu masyarakat diajak belajar bersama. Namun, ketika semangat itu tidak dibarengi kemampuan manajemen dan pengelolaan organisasi yang baik, berbagai persoalan mulai muncul,” ujar Opik.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan yang sering dihadapi TBM adalah lemahnya tata kelola organisasi. Kondisi tersebut ditandai dengan tidak berjalannya fungsi kepengurusan secara optimal sehingga seluruh aktivitas organisasi bergantung pada satu orang saja, biasanya ketua atau pendiri komunitas.
Akibatnya, program-program literasi yang sebelumnya berjalan aktif perlahan berkurang.
Bahkan, layanan yang menjadi inti keberadaan taman bacaan masyarakat sering kali tidak lagi tersedia secara rutin.

Lomba HUS Kuda Usman Husin Cup 2026 Bakal Digelar 2 Juli – 500 Peserta Ramaikan Atraksi Budaya Unik Rote Ndao

“Banyak organisasi yang secara administratif masih ada, tetapi aktivitasnya sudah tidak berjalan. Padahal, keberadaan sebuah TBM harus ditunjukkan melalui layanan yang terus hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Kang Opik menegaskan, fungsi utama Taman Bacaan Masyarakat adalah menyediakan layanan membaca dan peminjaman buku.
Berbagai kegiatan lain seperti pelatihan menulis, diskusi, kelas keterampilan, maupun aktivitas kreatif hanya berperan sebagai program pendukung.

“Kalau kita berbicara tentang taman bacaan masyarakat, yang pertama harus ada adalah layanan membaca dan peminjaman buku. Kegiatan lain boleh berkembang sesuai kebutuhan, tetapi layanan membaca tetap menjadi identitas utama TBM,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, peserta berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam mengelola komunitas literasi di daerah masing-masing.
Viona, pengelola TBM Saenoni, Kabupaten Kupang, mengakui bahwa persoalan manajemen organisasi yang disampaikan pemateri kerap mereka alami di lapangan. Untuk menjaga keberlangsungan kegiatan, pihaknya berupaya membangun jejaring dengan berbagai pihak.

“Kami berusaha memperkuat kerja sama dengan mitra. Bantuan yang kami terima bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan barang yang mendukung kegiatan komunitas, seperti kaos komunitas, perlengkapan kegiatan, dan kebutuhan lainnya,” ujar Viona.

Kota Kupang Siapkan Maskot Baru, Target Diluncurkan HUT RI ke-81 – Buka Sayembara untuk Partisipasi Masyarakat

Sementara itu, Yanti dari Komunitas Literasi Lekunik, Kabupaten Rote Ndao, mengatakan strategi yang diterapkan komunitasnya adalah menyesuaikan layanan dengan kebutuhan dan kebiasaan masyarakat setempat.
Menurut dia, kegiatan literasi akan lebih mudah berjalan jika mendekatkan layanan kepada lokasi yang menjadi pusat aktivitas warga, terutama anak-anak.

“Kami membawa TBM ke tempat-tempat yang sering menjadi lokasi berkumpul anak-anak. Dengan cara itu mereka lebih mudah diajak terlibat dan kegiatan dapat berjalan lebih aktif,” kata Yanti.

Pada akhir kegiatan, Opik mendorong seluruh pegiat literasi untuk terus memperkuat kapasitas manajemen organisasi, membangun kerja sama tim yang solid, serta menjaga keberlangsungan layanan membaca. Menurutnya, keberhasilan sebuah TBM tidak hanya ditentukan oleh semangat pendirinya, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam mengelola program secara berkelanjutan.

“Gerakan literasi akan memberikan dampak nyata apabila layanan membaca tetap hidup, organisasi berjalan baik, dan masyarakat terus dilibatkan dalam setiap aktivitas yang dilakukan,” ujarnya.
(goe)

Wawali Kupang Sambut Positif Program Perlindungan Tambahan bagi ASN – Bisa Dapat Santunan hingga Rp60 Juta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement